Justin Bieber, Januari, dan Raja Ali Haji
Januari, ya? Hujan sehari-hari, kata orang. Benar, memang. Cucian saya harus nangkring tiga hari di jemuran. Mau nggak mau, mereka harus betah di situ. Cuaca di Januari kali ini belum bersahabat. Sejauh ini, masih saja angin dan hujan yang sering menyapa bahkan mengajak main bersama. Seharian penuh. Eh, bahkan sampai tiga hari berturut-turut. Saya capek menolak.
Januari, ya? Masih belum ada sesuatu yang baru yang saya temui di sini. Tapi kemarin, saya dapat tantangan baru dari murid kelas XI yang sepertinya sedang gandrung terhadap sastra. Mereka begitu bersemangat seolah baru menemukan pintu menuju Narnia. Lucu juga melihat reaksi yang begitu penuh rasa penasaran dan jelas sekali bahwa dalam kepala mereka, banyak tanda tanya. Saya cukup kaget saat itu, mengingat bahan ajar hanya sebatas membahas soal seputar paragraf dan ejaan. Mereka banyak tanya, banyak menyebut nama-nama. Mereka tanya Chairil Anwar itu siapa. Saya pun bingung. Bukan bingung mencari jawaban, tetapi bingung kenapa mereka menanyakan itu. Apa iya, mereka belum pernah dengar sama sekali? Atau, guru mereka di sekolah belum pernah menjelaskan lebih jauh tentang kehidupan sastra dan sastrawan-sastrawan negerinya sendiri? Aduh.
Satu hal yang paling saya sayangkan, ketika nama Raja Ali Haji dan Pulau Penyengat sudah dikenal luas, generasi muda di Tanjungpinang masih belum mengenalnya dengan baik. Sedih ketika mendengar bahwa mereka tidak tahu siapa Raja Ali Haji, apa saja karya yang beliau hasilkan, atau setidaknya sedikit cuplikan Gurindam 12 yang selama ini menjadi kata pamungkas untuk karya besar Raja Ali Haji. Entah apa atau siapa yang salah ketika nilai-nilai dan kearifan lokal Melayu yang kental dengan Islam ini semakin memudar. Saya bingung. Kalau saya sebut nama Justin Bieber atau Selena Gomez di kelas, mereka akan memberi respon seketika. Mereka tahu betul siapa itu Bieber, Gomez, atau bahkan Miley Cyrus. Tapi ketika saya sebut Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya, sebagian besar dari mereka mengerutkan kening : "Siape tuh, Kak?". Plaaak, nabok jidat.
Sejauh yang saya tahu, video musik Justin Bieber jarang sekali ditayangkan di televisi nasional. Paling mentok, yang saya tonton ya...Upin Ipin. Atau saya yang kurang nonton tipi, yah? Justru Andrea Hirata yang sering muncul dalam acara bincang-bincang di televisi nasional. Bahkan, Laskar Pelangi ada versi sinetronnya. Makin bingung saya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang Chairil Anwar dan lain-lainnya. Setidak-tidaknya, di soal-soal ujian mereka, nama-nama sastrawan dan karyanya sudah muncul. Tapi toh ternyata mereka masih asing. Aduh lagi.
Tapi saya senang, setidaknya ada yang tertarik mempelajari sastra lebih jauh. Bukan apa-apa, tampaknya mereka sangat ingin menjadi "manusia" lagi, yang punya rasa, cipta, karsa, dan tentunya sensitivitas lebih terhadap Tuhan, dirinya sendiri, dan lingkungan sekitarnya. Agak sulit ketika menyampaikan sastra pada mereka. Sastra yang ada dalam kepala mereka hanyalah sekumpulan kata-kata indah yang memberi kesan dramatis dan mendamaikan perasaan. Saya harus kerja dobel : menghapus konsep sastra dalam kepala mereka dan menggantinya dengan yang baru. Mungkin saya butuh pembersih dengan sikat yang ekstra kuat. Mereka, murid-murid saya, adalah korban hegemoni roman picisan dalam dunia kapitalis yang menyedihkan ini. Mereka tak pernah berangkat ke sekolah dengan nubuat ibadah, mereka tak pernah diberi tahu bahwa Al-Quranlah teks sastra suci yang indah tiada bandingan. Mereka pula tak pernah tahu bahwa ada kalanya sastra adalah medan perang dan kata-kata adalah senjata.
Jujur, meski belum menyerah, saya mulai putus asa. Seolah tak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk "menyelamatkan" adik-adik malang itu. Namun kemarin, saya melihat celah. Atau mungkin sebuah pintu. Entah ke mana ia menuju. Mungkin Narnia. Tapi tanpa salju.
Wahhh...keren Gar curhatannya mengenai murid2nya..dan mudah2an celah itu bisa berubah menjadi pintu untuk mereka keluar dari ketidaktahuannya. semangat Gar...(INR)
BalasHapus