Toko Buku Kecil Sederhana


Terakhir kali saya ke sana, kurang lebih lima tahun yang lalu. Saat itu, tempat itu masih seperti yang saya harapkan: toko buku kecil sederhana di pinggir jalan yang juga sederhana. Saya ingat kala itu, dengan seragam putih abu-abu, saya dan dua orang teman datang ke sana jam sepuluh pagi. Jam sepuluh pagi, di hari Rabu (bahkan bukan hari libur nasional), tanpa perasaan bersalah (apalagi malu) kami datang dan membaca buku. Apa saja.
Tapi tempat itu tak lagi saya kenali. Toko buku kecil yang nyaman, menyenangkan, dan membentangkan pikiran seluas langit itu tak lagi menjadi seperti yang sudah-sudah. Ia kini genit. Bersolek dengan lampu-lampu semarak, diskon tengah tahun, spanduk-spanduk sugesti, restoran cepat saji, dan toko roti. Saya sadar ia sedang gembira. Ia gembira merayakan hedonisme dan bersyukur karena konsumerisme melekat erat di sudut-sudut alam bawah sadar manusia-manusia di sana, seperti label harga di pasar swalayan. Tak bisa ditawar. Semuanya berbeda dan saya merasa asing. Ke mana anak-anak sebaya yang berderet membaca cerita-cerita detektif dan kisah para remaja mengungkap misteri pencurian berlian? Ke mana pula ibu-ibu muda yang begitu cermat memilihkan buku dongeng bermutu untuk anak-anak mereka?  Atau mahasiswa kutu buku yang tak habis-habisnya berkeliling seolah buku-buku adalah santapan lezat luar biasa?
Mungkin ekspektasi saya berlebihan. Itu lima tahun yang lalu. Kini, di muka pintu, seorang ibu usia paruh baya—yang kelihatan sekali kalau ia punya masalah berat badan—sedang kerepotan membawa setumpuk komik, semangkuk es krim porsi sedang, dan bungkusan kecil yang ia dapat dari restoran donat. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki delapan tahunan—yang juga jelas punya masalah berat badan—sedang menangis dan merengek meminta jajanan kue dadar (generasi saya lebih suka menyebutnya crepes). Tak jauh dari situ, sepasang muda-mudi SMA, sedang diskusi (anggap saja mereka diskusi!) di pojok ruangan. Khusyuk dan mesra. Mungkin mereka sedang menyusun rencana masa depan, cicilan rumah, biaya kuliah anak , dan mungkin tunjangan hari tua, entahlah.
Meski sudah terasa lain, saya tetap mampu menghabiskan waktu di sana. Kian malam kian semarak, seiring saya yang kian pusing memutuskan buku mana yang akan ikut saya pulang. Saya benar-benar bingung. Bahkan kalau boleh, saya tunggu dapat wahyu. Tapi saya pikir itu kelamaan mengingat besok saya harus masuk kerja. Akhirnya saya pulang berlima. Ramai. Di antara kuartet pendatang baru, saya pilih karya Pak Ahmad Mansur Suryanegara untuk dicicipi lebih dulu. Tampaknya buku ini mampu membakar malam-malam saya beberapa hari ke depan. Dan, benar saja, sangat membakar.  
Anggap saja ke depan, saya belum tentu punya kesempatan untuk kembali ke situ. Toko buku kecil yang dulu pernah jadi pusat dunia bagi saya. Menyenangkan—meski tidak selalu menenangkan—hati, memuaskan dan meluaskan pikiran, serta memberikan dan memerikan pengalaman yang terasa begitu nyata. Anggap saja ke depan, saya akan rindu saat-saat ketika apa yang saya sebut masa remaja adalah menghabiskan jam pelajaran di toko buku mungil itu, dengan beragam jendelanya yang menawarkan pemandangan segala rupa, dan pintu-pintunya yang besar dan kecil, yang menantang keberanian dan menawarkan jalan ke segala penjuru. Anggap saja ke depan, saya harus mati-matian mencari jalan pulang ke toko buku mungil itu. Merasakan kembali khidmat dan heningnya lengkungan sampul buku. Mencium wangi kertas baru. Dan akhirnya, berani memandang ke luar jendela dan berani menembus setiap pintu.


Jakarta, Rabu, 4 Agustus 2010
12.29 AM


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer