I once there. But I am still.
Sudah tujuh bulan lebih rupanya saya tinggal di Kota Gurindam ini. Sejauh ini, belum banyak yang saya temukan (temui atau temukan?). Saya masih bertanya-tanya, masih meraba-raba, dan masih mencari tahu tentang kota ini dan seisinya. Saya masih bingung.
Setengah tahun rupanya bukan waktu yang panjang. Tapi jujur, terasa sangat panjang seolah saya terperangkap di sini dan tak akan pernah bisa kembali. Kembali ke mana, pada apa, pada siapa, saya pun bias. Kota ini masih pelit. Masih saja menyisakan pertanyaan yang tak mau ia jawab cepat-cepat.
Tapi setidaknya saya punya teman dan sahabat, orang-orang yang sulit didapat. Mungkin inilah pelajaran pertama yang diberikan kota kecil ini : hang out with everyone, make friends with few good people, and make best friends with the best ones. Seumur-umur saya memang nggak pernah jauh dari keluarga dan teman. Dan toh saya nggak pintar berteman. Tapi saya pintar memilih. Saya punya sahabat-sahabat yang tidak hanya menyenangkan dan mengagumkan, tetapi juga membanggakan. Sayang euy, mereka jauh.
Jarak memang permasalahan utama yang mau tidak mau jadi konsekuensi paling berat yang harus saya terima. Saya pikir saya akan cukup mampu mengatasi itu dengan teknologi yang setidaknya mampu mengurangi rindu tak berkesudahan atas keluarga dan kawan di kampung halaman. Tapi ternyata tidak. Tidak sama sekali. Saya masih hidup di sana, belum sampai di sini. Di sini hanya ada penantian panjang. Penantian akan sebuah momen ketika saya mampu menerima keadaan dan mengetahui apa yang sebenarnya sedang saya lakukan. Saya khawatir akan banyak kekecewaan yang muncul selama penantian ini berlangsung.
Saya masih di sana, sepenuhnya. Saya belum ke mana-mana. Masih di sana. Sedang mengemas barang-barang, sedang merapikan serpihan-serpihan yang berantakan, sedang menyusun kembali fragmen-fragmen yang hancur, dan terakhir, masih membalut luka yang sama, yang masih menganga meski darah sudah berhenti lama sekali. Mungkin tidak pernah ada air mata, tapi masih ada rasa sesak dan pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama : mengapa.
Saya tahu harus bergerak maju. Move on, kata anak-anak remaja. Sejauh ini, hanya itu yang belum bisa saya lakukan. Belum sama sekali. Saya ingin Ibu menerima apa yang sepantasnya. Atau setidaknya kata maaf, meski sama sekali tidak tulus, pura-pura, atau bahkan hanya basa basi. Tapi toh itu sekadar keinginan yang harus saya genggam kuat-kuat. Sekarang sudah hancur dalam genggaman. Ibu tidak layak menerima ini semua. Sayalah yang akhirnya harus menutupi lukanya. Entah dengan apa.
Saya baru ingat, saya belum punya kalender 2012. Dan saya juga belum punya sepeda motor buat bolak-balik ke kantor. Eh, saya juga belum punya rumah sendiri haha. Ini kekhawatiran khas orang yang kebanyakan mikirin dunia. Amitamit. Mudah-mudahan saya selalu ingat bahwa Allah menguji kita dengan segala hal : kemiskinan, kekayaan, orang tua (kehilangan salah satunya bisa bikin hidup saya jungkir balik), serta kondisi sehat dan sakit *ngelirik postingan sebelumnya.
Saya tak mampu berhenti bersyukur sembari terus memegang kuat-kuat apa yang seharusnya saya pegang sebagai seorang hamba Yang Mahasegala. I've made it so far. Bukan, tapi we've made it so far. Bukan begitu, kawan?
PS : If you read this, my dearest dearest dearest best friends (kayak bocah SMA ya? bodo! saya bangga menyebut kalian seperti itu. saya mungkin tidak punya ayah yang membanggakan tapi saya punya sahabat-sahabat yang membanggakan)...ketahuilah bahwa kalianlah (selain Allah SWT, Rasul-Nya, Nabi-Nya, Kitab-Nya, malaikat-Nya, qada dan qadar-Nya, hari pembalasan-Nya, serta emak dan keluarga gw tentunya) yang bikin gw tetep waras dan bisa jalan sampe sejauh ini. Lu'lu', selamat berumur 23 tahun dan Ewes, selamat bahagia sejahtera sehat sentosa selamanya, dan Sajjad : JANGAN MACAM-MACAM!! Haha.
i read that, my dearest dearest best friend..
BalasHapuspercayalah kalo kau itu yang mengagumkan dan membanggakan, yang bahkan seringkali menjadi sumber inspirasi saya. :)
amiin amiiiin amiiiin... xoxoxo