Sudut Kosong
Pagi ini sama seperti pagi-pagi lain di sini. Sepi, kurang aktif, kurang produktif, tidak kompetitif, dan tentu saja tidak terlihat seperti pagi di ibu kota provinsi. Tapi pagi ini terasa lain.
Mendengar kabar kepergian Eko Prasetyo kemarin sore, saya kaget. Mungkin saya tidak mengenalnya dengan baik, tapi yang jelas saya kehilangan. Entah kenapa saya harus merasa kehilangan. Toh kami tidak pernah bicara. Tak pernah bertegur sapa.
Bukankah aneh ketika seseorang yang tak pernah kau kenal bisa begitu meluapkan inspirasi, menambah sudut dalam memandang kehidupan? Kau merasa sejalan, atau setidaknya kau merasa kalian memihak sisi yang sama dalam peperangan khayali yang begitu berat? Atau kau merasa kalian mungkin saja bersaudara di semesta paralel, dalam sebuah keluarga kecil sederhana yang memelihara elang, atau mungkin iguana? Atau pernahkah kau merasa bahwa semua yang ia tuliskan dalam buku hariannya adalah tulisan-tulisanmu yang dulu, yang belum sempat kau pindahkan ke buku kusam milikmu sewaktu kanak-kanak dulu? Dan kau pun tidak lagi merasa sendirian dengan kehadirannya yang diam dan sendiri di sudut ruangan.
Tapi kini sudut itu kosong. Ia memilih untuk pergi. Memang karena ia harus pergi. Sudut kecil itu tak akan pernah terisi dengan orang yang sama, atau setidaknya serupa. Ia langka. Dan sudut itu miliknya.
Saya yakin, dalam hati kawan-kawannya, sudut itu akan tetap ada dan dibiarkan terbuka. Kosong, tapi bukan tanpa makna. Bukan pula tak bernama. Tak pula sia-sia. Tidak. Mungkin suatu saat, ia akan hadir dengan caranya sendiri. Hening, sendiri, tanpa selebrasi, namun sarat makna, warna, dan inspirasi.
Mungkin inilah seburuk-buruk obituari. Padamu, saya hanya iri, betapa Tuhan mengasihi.
Selamat jalan, kawan.
Komentar
Posting Komentar