Rencana dan Bencana
Ya Allah,
ketika terasa tiada lagi jalan
ketika terasa tiada lagi tujuan
ketika semua pintu tertutup
ketika semua cahaya meredup
Sedih. Bulan Ramadhan kok sedih? Gimana enggak, lha wong saya jauh begini. Ramadhan adalah detik-detik penuh kenikmatan ibadah dan limpahan kasih sayang Allah.Ya, saya tahu. Tapi, Ya Allah, beratnya terasa ketika jauh dari orang tua. Apalagi Ibu masih berjuang melawan penyakitnya meski sudah keluar dari RS. Ya, Allah, rindunya.
Saya seorang perencana andal. Eh, tapi Dia Yang Maha Perencana. Sejauh ini, yang saya tahu, rencana saya selalu hancur. Selalu ada rencana-Nya yang tiba-tiba nongol di tengah rencana saya yang sedang berjalan. Mungkin Dia mau kasih kejutan. Aduh, sayangnya saya nggak suka kejutan. Ya itu tadi, saya terbiasa merencanakan segala sesuatu.
Mungkin saya visioner. Setidaknya saya merasa begitu. Saya berpikir dan berencana jauh ke depan. Kadang kejauhan. Nggak papa, yang penting udah kepikiran meski cuma selintas. Saya hampir tidak pernah berkata "lihat gimana nanti," atau "tergantung". Saya harus putuskan: ya atau tidak, ya atau bukan, kiri atau kanan. Saya harus memihak, saya harus berwarna, tidak bisa tidak. Terkadang ketidakpastian adalah sesuatu yang mengerikan. Tak hanya itu. Ketidakpastian, kejutan, perubahan yang tiba-tiba, ketidakjelasan, ketidakberpihakan, netralitas, jalan tengah, atau bahkan win-win solution itu juga bikin saya khawatir.
Lha ini kok jadi meluas ke mana-mana (tulisan ini pun mulai nggak jelas arahnya dan jelas membuat saya khawatir.)
Jadi begini, mungkin Allah ingin saya mencari sesuatu di balik semua hal yang saya takutkan selama ini. Bener lho, kadang rasanya saya kayak dikerjain. Hampir semua hal yang saya benci atau saya takutkan, malah nyamperin tanpa permisi. Padahal saya sering berdoa untuk dijauhkan, tapi ya kenapa malah ditiban di atas kepala saya? Ya, Allah. Yah, yang namanya cuman "hamba" ya bisa apa selain sabar. Sabar. Sabar.
Allah sayang sama saya. Amin. Rasanya sih gitu. Amin. Habis...kok kayaknya soal-soal ujian saya nggak habis-habis. Fire test gold kalo kata peribahasa latin. Amin, mudah-mudahan saya bisa lulus ujian dengan nilai terbaik. Tapi jujur deh, mungkin ujian-ujian ini belum seberapa. Ya memang belum seberapa sih, lha wong buwanyiak buwangget gitu yang jauh lebih puwarah ujiannya. Tapi, Allaaaaah, berat dan sedihnya ampun deh.
Terkadang, setiap bangun pagi saya merasa berat menjalani keseharian. Aih, ini tanda-tanda orang yang tidak bersyukur. Kadang saya lupa itu. Tapi beberapa hari yang lalu, nggak tau gimana carannya saya "nyasar" ke milis orang. Saya baca tulisannya:
everyday is not an ordinary day
Ceritanya dia ketemu temen SMP suatu hari tanpa sengaja dan takjub akan perubahan-perubahannya. Saya jadi mikir. Dulu saya sesumringah itu menghadapi hari. Optimis, kata para motivator. Tapi sekarang, rasa optimis mulai tipis. Terkikis. Jangan-jangan habis.
Allah, tanpa Engkau, hamba pasti kian jauh terjatuh.
Kalau masalah nangis ya mau. Maaaaauuuu. Tapi kok ya nggak bisa gitu. Bukan masalah gengsi atau apa. Nggak bisa. Di dalam hati, rasanya mau teriak sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya, sejadi-jadinya. Tapi di dalam kepala, ada yang terus marah-marah dan teriak ngomelin yang di dalam hati. Dan akhirnya suara yang di dalam hati ciut. Ga jadi nangisnya.
Entah saya harus buat rencana apa ke depan. Buram. Rasanya kayak nyetir mobil tapi kacanya ketutup lumpur. Nggak nabrak ya nggak mungkin. Aih, itu ya jeleknya saya. Cuma lihat satu sisi:sisi manusia. Capek. Kalo terus-terusan mikir pake otak manusia yah begini, terbatas, orang cuman segede batok kelapa. Allah, saya suka lupa. Lupa berserah, lupa bahwa semuanya harus dipasrahkan pada rencana-rencana yang sudah lebih dahulu Engkau tuliskan di Lauhul Mahfudz. Astaghfirullah....amit-amit jangan sampe saya jadi hamba yang kurang ajar. Allah...sungguh lemah dan terbatasnya manusia.
Ya, toh semua udah ditulis ya, sama Penulis Mahaulung. Dan semua bakal tercatat dan terhisab di pengadilan, di hadapan Hakim Yang Mahaadil. Kenapa juga repot. Ih saya suka lupa. Ampun deh.
Tapi tetep kangen ibu.
Aliy, Yang Mahatinggi
sungguh kami tak pernah pantas meminta sudut kecil dalam Ma'wa.
sungguh kami tak pernah mampu mengingat-Mu setiap waktu.
sungguh kami tak pernah siap menerima azab.
namun sungguh kami menyayangi orang tua kami,
ibu yang melahirkan kami, yang selalu siap menjemput syahid demi kami,
yang tak pernah putus mendoakan kami dalam tiap malam malamnya yang tajam
yang tak pernah lupa menyebut nama kami dalam setiap sujudnya yang
panjang
yang tak pernah lupa mengusap kepala kami dalam tiap kantuknya yang
berat
yang tak pernah lelah menghibur hati kami dalam setiap dukanya yang dalam
yang tak pernah lelah menutup rasa sakit sakit kami dalam setiap lukanya yang menganga
yang tak pernah mau berhenti mengurus kami dalam tiap ketidakmampuannya yang bertambah-tambah
Wahai Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Mendengarkan, Yang Maha Mengabulkan
lindungi dan sayangilah ibu kami, orang tua kami
sehatkanlah badannya,
senangkanlah hatinya,
tenangkanlah jiwanya
cukupkanlah kebutuhannya,
ampuni dosa-dosanya,
limpahkan cinta-Mu padanya,
Allah, Tuhan kami
kuatkan kami
tangguhkan hati dan jiwa kami
keraskan hati dan luruskan niat kami
Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab
:')
BalasHapusmiss u, buddy.. :)