Jalan-jalan



Malam Jumat. Kalo di Jakarta dulu, ya nggak dulu-dulu amat sih, biasanya di musala belakang rumah saya, banyak bapak-bapak yang baca Alquran. Kadang ada ibu-ibunya juga. Di sini, oalah....sepi. Mana ujan seharian. Sedih amat dah.
Sejak pindah ke sini, saya makin sering buka Facebook dan chatting. Bukan apa-apa, kangennya itu. Meski chatting dan Facebook sama sekali tidak mengurangi rasa rindu itu, setidaknya hati saya terhibur dengan komentar-komentar usil para kawan yang masih khas mahasiswa. Ah, mahasiswa. Intelektualitasnya, idealismenya, candanya, jatuh bangunnya.
Melihat sebagian besar kawan di layar monitor justru membuat jarak terasa semakin nyata. Bukan hanya jarak secara fisik tentu. Ada jarak di antara kami yang rasanya terlalu luas untuk ditempuh. Hingga kami sejak lama memutuskan untuk tidak memperkecil jarak itu, kokoh pada pijakan masing-masing atas nama rasa hormat dan harga diri. Ya, toh tidak semua orang berpijak dan berpihak pada sisi yang sama. Sebagian orang mengartikannya sebagai kedewasaan. Sebagian yang lain lebih suka menyebutnya pilihan. Tak sedikit pula yang menyebutnya kebodohan atau setidaknya ketidaktahuan. Atau jangan-jangan ketidakmautahuan? Entah.
Melihat sebagian besar kawan menampilkan gambar-gambar diri dan berbagai pencapaian mereka semakin membuat saya sadar. Dengan sendirinya dunia menampilkan keindahan:masa muda, harta benda. Ada rasa takjub melihat perubahan-perubahan yang mereka alami, mengingat kami pernah sama-sama menapak jalan-jalan sempit yang becek, gelap, dan dingin. Di saat yang sama, saya juga sadar bahwa dengan sendirinya, di saat yang sama, dunia juga menampilkan cacatnya:fana.
Rasanya terlalu berlebihan jika saya melulu mengolok-olok dunia dan isinya. Tidak, bukan mengolok-olok. Karena rasanya terlalu bodoh jika saya melulu memuja-muji dunia dan isinya. Lantas realistis menjadi pelarian yang dirasa tepat. Mungkin ya, tapi dengan sebuah definisi baru yang bagi saya, lebih realistis.
Adaptasi, mereka bilang. Penyesuaian diri, katanya. Agar cepat sukses, konon. Entah apa yang harus disesuaikan dan bagaimana menyesuaikannya. Saya tak pernah ambil pusing. Mengapa harus merendahkan diri demi sebuah kata yang bahkan kita tidak tahu artinya? Saya jadi curiga, jangan-jangan kami sudah lama berhenti membongkar makna. Jangan-jangan kami sudah berbelok di persimpangan jalan yang gelap sejak lama sekali. Atau sebenarnya kami tersesat dalam perjalanan mengejar makna-makna itu? Ataukah makna itu sendiri sudah jauh tertinggal di pojok-pojok ruangan dan selama ini kami berjalan tanpa tujuan? Mengerikan.
Beginikah menjadi dewasa? Ataukah hanya sebuah fase ketika penghargaan diri adalah menu utama? Saya tidak akan bertanya pada langit malam, itu khas remaja sekarang. Galau, katanya. Begitu keras memang dunia menghantam warna-warna yang baru tumbuh. Dunia memang tak rela membiarkan warna lain tumbuh di dalamnya. Ia harus sama, senada, serupa:fana.
Mungkin nanti mereka akan bertanya. Semakin banyak bertanya. Jika memang tersedia dua jalan, yang satu dengan kemudahan, semarak cahaya gemerlapan, mengapa mengambil jalan lain dengan rentang susah seolah tak berkesudahan? Dan akan ada jawaban : sesungguhnya aku hanya melihat satu jalan, lurus dan penuh harapan. Dan di ujungnya, ada Tuhan.      




 

Komentar

Postingan Populer